Surat Cinta dari Staffsus Presiden Untuk Pak Camat

Lubadul Fikri
Penulis Opini : Lubadul Fikri, Pendidik di SMP YA BAKII 1 Kesugihan, Cilacap (foto : pri)

Terkini.id, Banyumas – Staffsus Presiden Andi Taufan Garuda Putra, menuai kritik dari berbagai kalangan, ini menarik kita bicarakan kenapa?

Karena staffsus Presiden harus bergerak sesuai fungsi dan ketepatan.

Dalam kondisi darurat Presiden memiliki hak untuk melakukan dekrit, ada staffsus tapi langsung di tangani presiden kan tidak lucu, maka ‘test case’ inilah yang harus dilakukan para staffsus.

Lockdown, lockdown, itu teriakan plagiator saat melihat keberhasilan Cina, asumsi saya, kita tidak boleh menyepelekan kehebatan orang-orang yang lahir di bumi Indonesia ini.

Kenapa tidak boleh menyepelekan, karena sudah terbukti, dulu penjajah kalang kabut menghadapi kegigihan para pejuang kemerdekaan di negeri kita dalam menghadapi para penjajah, tokoh dari berbagai daerah, segala agama, atau pun yang tidak beragama menggembar-gemborkan segala slogan penyemangat seperti rawe-rawe rantas, Resolusi Jihad dan Takbir.

Baca juga:

Bhineka Tunggal Ika, salah satu slogan yang bisa menyatukan pandangan bahwa walau berbeda-beda tetap satu jua.

Ketika mau menangani sesuatu yang harus cepat, kok’ di katakan menyalahi aturan, perusahaan benar-benar ada bukan fiktif, bergerak salah tidak bergerak salah, kan aneh.

Menyalahkan boleh, dan tidak ada yang melarang, tapi konsekwensi menyalahkan harus memberitahu bagaimana cara yang benar, bahasa kerennya Critical Thinking.

Rakyat Indonesia memang ahlinya mbego-mbegoin, saat melihat sepakbola, Benzema akan di bego-begoin sama ahli mbegoin.

Padahal saat ada pertandingan bola antar RT dia masuk pemain cadangan saja, tidak di tim kesebelasan tingkat RT tersebut.

Surat staffsus ke kecamatan untuk mendukung perusahaan yang akan mengadakan penanganan Covid 19 di salahkan, Aneh.

Dia sudah benar sebagai staffsus, perusahaan tersebut benar-benar ada, mungkin dia sudah mengukur kekuatan jelas mampu.

Dimana letak kesalahannya dari surat itu, saat belum pelaksanaan, mestinya tidak boleh menyalahkan, nah, setelah pelaksanaan baru hal tersebut boleh dikoreksi.

Kalau semua sudah sesuai protap pelakasanaan, kita harus acungkan 2 ibu jari kita, kalau tidak sesuai protap, kita mau salahkan, atau mau di suruh lari muterin monas telanjang dada (kalau telanjang bulat nanti yang nyuruh kena dong, UU Pornografi)

Tolong dong, negara lain sudah banyak yang menganggap Covid 19 merupakan endemi yang menakutkan, kita masih bisa ketawa, masih boleh tidak ngangsur, walau mobil tetap dipakai, jangan ubah suasana jadi hujat menghujat.

Kalau tetap saling hujat, bahaya, staffsus jadi tidak konsen, terhadap apa yang sedang mereka kerjakan, ‘feeling’ saya yang menghujat pasti lagi jealous.

Ingat bung ini musim pandemi, harusnya kita pasrah diri kepada Allah Swt, tentu tetap dengan ikhtiar agar kita tidak tertular ataupun menularkan baik Covid 19 maupun penyakit hati, kan parah, kalau saat kondisi seperti ini kita tidak ingat ajaran tempo dulu Bhineka tunggal ika.

Penulis : Lubadul Fikri

Guru SMP Ya Bakii 1 Kesugihan, Cilacap

Komentar

Direkomendasikan

Berita Lainnya

Air Jernih Dalam Dunia Maya itu Bernama Media Online

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar